Riyono Pratikto
Bapak…… begitu saya menyebutnya… dari pertama kali bertemu, menjadi menantunya sampai akhirnya beliau berpulang 30 Oktober 2005 yang lalu.
Sosok ramah yang tenang dengan postur tubuh berisi dan senyum simpulnya yang simpatik. Jauh dari kesan menakutkan bagi seorang bakal calon menantu saat pertama kali bertemu. Justru suasana “welcome” yang porsinya untuk menantu yang beliau dan istrinya berikan. Wah selangit rasanya……
Interaksi selanjutnya biasanya via telfon atau saat kunjungan ke Bandung… Selalu ada yang dibincangkan, segala hal, bahkan lelucon…… Dengan pembawaan yang tenang dan teratur berkolaborasi dengan istrinya yang gesit dan random saat kita berkumpul membahas segala sesuatu. Walau kadang terlihat “berebut” untuk unjuk bicara dengan menantu si bungsunya ini :D
Selalu senang hati saat menceritakan atau memperlihatkan koleksi-koleksi masa mudanya… buku, tulisan, uang kuno, foto, cerita, bahkan lelucon. Bahkan saat sakit selama 3,5 tahun akibat stroke, Bapak masih suka melucu walau susah payah kami memahami ucapannya yang pelo.
Lelucon terakhir yang membuatnya geli sendiri, saat kita membahas serangga kecil yang gemar berada didekat nasi atau tapai singkong sembari Bapak menghabiskan makan malamnya. Leburan etnik Jawa, Sunda dengan menantunya dari Padang ini saat menyebutkan nama serangga tersebut membuatnya tertawa terpingkal-pingkal… Mrutu, si serangga disebut Age dalam bahasa Padang. Sekonyong-konyong Bapak mengingat bahwa ada kerabat yang dipanggil Aghe, “…berarti sama dengan Mrutu” gumamnya terbahak…… Bahkan esok paginya dan kemudian setiap saat Bapak teringat, pasti gelaknya akan terbit terbahak.
Satu lagi yang rasanya tidak akan terlupakan dari Bapak. Kebiasaannya melepas anak menantunya pulang setelah berkumpul di Bandung. Lengkap dengan topi kupluk merah biru andalannya untuk menahan dingin akibat rambut putihnya yang sudah sangat menipis. Dengan setia Bapak pasti akan menunggu di jalan depan rumahnya, di ketinggian Jl. Sosiologi yang buntu, sampai kami tiba di perempatan jalan yang menurun dan hilang dari pandangannya.
Dan setiap kali kami menoleh untuk memastikan tebakan kami bahwa Bapak sudah masuk ke dalam rumah, pasti beliau langsung melambaikan tangan sambil tersenyum. Kadang, tebakan kami benar, tapi mungkin Bapak lebih cepat masuk rumah karena panggilan Ibu, karena ada telfon atau mungkin alasan lainnya yang menyebabkan “upacara” tersebut harus selesai.
Bapak … sampai saat terakhir sebelum kafannya ditutup, masih menampilkan wajah yang tenang dan ramah. Walau bobot tubuhnya menjadi ringkih sehingga garis wajahnya menjadi tirus, namun guratan senyum khasnya masih membayang dalam tidurnya yang damai. Ya, Bapak meninggalkan kami tanpa menunjukkan kesan sakit yang menderanya, tapi seolah tertidur lelap dalam buaian mimpi yang indah.
Selamat jalan Pak……






