Cuti sudah selesai... harus gak ketemu Agha deh pas jam kantor. Bunli di kampus, Agha sekolah di rumah Nenek. Hmmm, kangen Agha...

Riyono Pratikto

Dikirim: November 22nd, 2005 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: Kenangan | 7 Komentar »

Bapak…… begitu saya menyebutnya… dari pertama kali bertemu, menjadi menantunya sampai akhirnya beliau berpulang 30 Oktober 2005 yang lalu.

Sosok ramah yang tenang dengan postur tubuh berisi dan senyum simpulnya yang simpatik. Jauh dari kesan menakutkan bagi seorang bakal calon menantu saat pertama kali bertemu. Justru suasana “welcome” yang porsinya untuk menantu yang beliau dan istrinya berikan. Wah selangit rasanya……

Interaksi selanjutnya biasanya via telfon atau saat kunjungan ke Bandung… Selalu ada yang dibincangkan, segala hal, bahkan lelucon…… Dengan pembawaan yang tenang dan teratur berkolaborasi dengan istrinya yang gesit dan random saat kita berkumpul membahas segala sesuatu. Walau kadang terlihat “berebut” untuk unjuk bicara dengan menantu si bungsunya ini :D

Selalu senang hati saat menceritakan atau memperlihatkan koleksi-koleksi masa mudanya… buku, tulisan, uang kuno, foto, cerita, bahkan lelucon. Bahkan saat sakit selama 3,5 tahun akibat stroke, Bapak masih suka melucu walau susah payah kami memahami ucapannya yang pelo.

Lelucon terakhir yang membuatnya geli sendiri, saat kita membahas serangga kecil yang gemar berada didekat nasi atau tapai singkong sembari Bapak menghabiskan makan malamnya. Leburan etnik Jawa, Sunda dengan menantunya dari Padang ini saat menyebutkan nama serangga tersebut membuatnya tertawa terpingkal-pingkal… Mrutu, si serangga disebut Age dalam bahasa Padang. Sekonyong-konyong Bapak mengingat bahwa ada kerabat yang dipanggil Aghe, “…berarti sama dengan Mrutu” gumamnya terbahak…… Bahkan esok paginya dan kemudian setiap saat Bapak teringat, pasti gelaknya akan terbit terbahak.

Satu lagi yang rasanya tidak akan terlupakan dari Bapak. Kebiasaannya melepas anak menantunya pulang setelah berkumpul di Bandung. Lengkap dengan topi kupluk merah biru andalannya untuk menahan dingin akibat rambut putihnya yang sudah sangat menipis. Dengan setia Bapak pasti akan menunggu di jalan depan rumahnya, di ketinggian Jl. Sosiologi yang buntu, sampai kami tiba di perempatan jalan yang menurun dan hilang dari pandangannya.

Dan setiap kali kami menoleh untuk memastikan tebakan kami bahwa Bapak sudah masuk ke dalam rumah, pasti beliau langsung melambaikan tangan sambil tersenyum. Kadang, tebakan kami benar, tapi mungkin Bapak lebih cepat masuk rumah karena panggilan Ibu, karena ada telfon atau mungkin alasan lainnya yang menyebabkan “upacara” tersebut harus selesai.

Bapak … sampai saat terakhir sebelum kafannya ditutup, masih menampilkan wajah yang tenang dan ramah. Walau bobot tubuhnya menjadi ringkih sehingga garis wajahnya menjadi tirus, namun guratan senyum khasnya masih membayang dalam tidurnya yang damai. Ya, Bapak meninggalkan kami tanpa menunjukkan kesan sakit yang menderanya, tapi seolah tertidur lelap dalam buaian mimpi yang indah.

Selamat jalan Pak……


7 komentar untuk “Riyono Pratikto”

  1. 1
    Riyogarta
    berkomentar pada jam 3:30 pm
    tanggal 22 November 2005

    Makasih yah Yuli, mudah-mudahan kita juga akan terus bersama sampai ajal memisahkan kita, seperti Bapak dan Ibu. Yah .. selamat jalan Bapak, cinta kami pada Bapak dan juga Ibu tidak akan terkikis oleh jalannya waktu. Amin.

  2. 2
    Yuliazmi
    berkomentar pada jam 4:58 pm
    tanggal 22 November 2005

    Amin, mudah-mudahan ikatan kita langgeng selamanya.

  3. 3
    Januar
    berkomentar pada jam 3:59 pm
    tanggal 9 May 2007

    Halo,.

    saya sedang mencari dan menggali informasi tentang serangga
    yang bernama MRUTU. Kebetulan di blog anda disebutkan tentang MRUTU. Seperti apakah bentuk serangga MRUTU ini?
    Apakah anda bisa membantu saya menampilkan bentuk MRUTU dalam foto atau gambar? bisakah di email ke januartjandra@yahoo.com

    Atas bantuannya sangat berterima kasih

    Januar Tjandra

  4. 4
    Yuliazmi
    berkomentar pada jam 1:25 pm
    tanggal 12 May 2007

    Wah, saya tidak punya gambarnya. Mrutu itu serangga yang sering/suka hinggap di nasi atau tapai singkong. Coba biarkan nasi atau tapai singkong yang empuk (ada yang agak keras dan kering) diudara terbuka, pasti nanti akan ada mrutu yang hinggap.

    Semoga membantu :)

  5. 5
    aLe
    berkomentar pada jam 5:32 pm
    tanggal 2 February 2008

    mengenang alm bapak,
    eh malah ada yg konsultasi Mrutu :D

    Posting terakhir di blognya aLe aLe ditawarin buat bLog gratisan ‘cuma’ Rp.100rb

  6. 6
    Yuliazmi
    berkomentar pada jam 2:34 pm
    tanggal 6 February 2008

    @ aLe : iya tuh …

  7. 7
    riyodina pratikto
    berkomentar pada jam 3:33 pm
    tanggal 27 August 2009

    *terisak…terharu…mode on…
    amin..Yahyo dan Bunli semoga langgeng…seperti bapak (alm) dan ibu kita yang luar biasa…


Isi Komentar