Memoirs of A Geisha

Ceritanya malam tahun baru Yayang ngajak nonton midnight di Pondok Indah XXI sekalian nyobain nonton di studio XXI * abis bioskop yang deket rumah adanya studio 21 biasa* :D. Sesuai rencana kita nonton Memoirs of A Geisha yang dibintangi oleh Zhang Ziyi. 
Film yang dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama karangan Arthur Golden ini, menampilkan kehidupan Geisha sebelum pecah Perang Dunia II. Sebenarnya saya sudah pernah baca kutipan novel ini di majalah Femina saat masih kuliah. Mungkin baca novelnya lebih seru lagi ya. “Ada yang sudah baca?”
Kisah tentang Chiyo ini, seorang gadis nelayan berusia 9 tahun bermata seperti air, dimulai saat ia dan kakaknya dijual terpisah oleh keluarganya ke sebuah rumah geisha (okiya) di Kyoto saat ibunya dalam keadaan sekarat. Karena tak mau terpisah dari kakaknya, Chiyo berusaha kabur dari okiya. Pada saat yang bersamaan Hatsumomo, geisha di okiya tersebut yang membenci Chiyo, beberapa kali menjebak Chiyo sehingga gadis kecil itu batal disekolahkan ke sekolah Geisha dan mendapat hutang yang besar akibat “kesalahan”-nya itu. Akibatnya, Chiyo hanya menjadi pembantu di okiya tersebut.
Suatu hari, saat sedang bersedih di pinggir jembatan kota, seorang lelaki tampan yang disebut Chairman membelikannya es krim serta menghibur dan menasehatinya agar optimis dan tidak bersedih lagi. Dengan koin dalam saputangan dari sang Chairman, Chiyo berdoa dan sejak itu bertekad untuk dapat menjadi seorang geisha agar suatu saat bisa bertemu dan “dekat” dengan sang Chairman! 
Film tentang Chiyo dalam perjuangan dan metamorfosisnya menjadi Sayuri dikemas dengan saat memikat dan sopan. Pelajaran bagi seorang calon geisha tentang hubungan intim dijelaskan dengan analogis sederhana, jauh dari kesan vulgar.
Kisah yang penuh intrik, persaingan dan strategi ini dimainkan Zhang Ziyi dengan sempurna. Gak rugi deh nontonnya sebagai pembuka tahun 2006. Selamat Tahun Baru 2006!!! 






