Baca Buku: Blink
Akhirnya saya selesai juga membaca Blink, karya Malcom Gladwell. Membaca buku hadiah ultah dari adek-adek di PMB ini memang membutuhkan effort yang cukup tinggi, mengingat kesan pertama saya yang mengkatagorikannya sebagai bacaan “berat” yang menggelitik. Judul buku ini memang menggelitik, Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir (Blink: The Power of Thinking Without Thinking), menggoda bukan? Belum lagi versi Indonesia yang saya dapatkan tampil dalam cover biru donker tulisan putih dan warna silver pada kata “Blink”. Blue is my favourite!
Dari buku ini saya mempelajari bahwa snap judgment (kesimpulan sekejap) dapat dianalogikan sebagai pisau bermata dua; Bisa untuk melindungi namun dapat sekaligus melukai pemiliknya. Hal ini yang dialami Gladwell seputar penampilannya, bahwa orang sering “menilai buku hanya dari sampulnya”, mendesak alam bawah sadarnya untuk menciptakan “Blink”. Memiliki snap judgment memang dibutuhkan namun kita perlu melatihnya untuk tetap memperhatikan thin slicing (cuplikan tipis) yang merupakan bagian dari proses rapid recognition (pemahaman cepat).
Buku ini menceritakan betapa dahsyatnya kolaborasi penglihatan, pendengaran, kesan, cara berpikir, pemahaman dan alam bawah sadar dalam menentukan baik buruknya sesuatu. Hmmm, intinya saya masih perlu membaca ulang buku ini supaya lebih memahami semua yang diuraikan oleh Gladwell 
Artikel di cnn.com








