HMOn: Martabat Perempuan
Dikirim: March 9th, 2006 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: HMOn, Renungan | 2 Komentar »Hari ini saya dibuat tak habis pikir tentang perempuan,… bukan… bukan karena mengenai RUU APP yang sedang marak dengan kaum perempuan sebagai salah satu topiknya. Saya tak habis pikir dengan kondisi bahwa banyak hal yang menurunkan martabat perempuan dan ini dilakukan oleh kaum perempuan itu sendiri.
Sebagai seorang perempuan, saya sebisa mungkin untuk selalu menjaga martabat kaum ini. Berusaha untuk dapat setegar, semandiri dan segigih mungkin dalam porsi yang dapat dilakukan oleh perempuan. Saya tidak berusaha melawan kodrat, bahwa kaum perempuan memang masih memerlukan perlindungan dan uluran tangan dari kaum laki-laki, katakanlah dari para Ayah dan Suami maupun saudara laki-laki. Selagi mampu untuk melakukan ataupun membuktikan sesuatu sendiri, mengapa harus mengiba-iba sebagai kaum lemah yang tak punya daya?
Menurut saya martabat suatu kaum ditentukan oleh kaum itu sendiri, barulah anggapan, pandangan dan penerimaan kaum lainnya turut menguatkannya. Menurut saya bagaimana masyarakat bisa menghargai perempuan kalau perempuannya sendiri merendahkan martabat mereka dengan cara seperti ini….., seperti yang saya alami tadi siang:
- Seorang mahasiswi yang menjadi bimbingan KKP saya datang untuk penilaian hasil pengamatannya dalam bentuk demo program sesuai topik pilihannya. Bimbingan itu sendiri hanya mencakupi kegiatan analisis topik dan persiapan rancangan sistem yang diangkat serta penulisan pelaporan (diluar pembuatan program).
- Ternyata dia tidak menguasai program buatan tersebut! Memang dimungkinkan seorang mahasiswa tidak sepenuhnya membuat program sendiri dengan catatan ybs memahami algoritma/kerangka pikir dan penggunaan program tersebut. Tapi kenyataannya ybs bahkan tidak menguasai hal-hal dasar saat bekerja dengan komputer! Oh nak, kemana saja kamu selama kuliah? kemana saja kamu selama kegiatan praktek di lab. komputer??? Seketika kepala saya berdenyut-denyut, terhenyak.
- Selama bimbingan kilat yang sedikit “dipaksakan” olehnya (karena ybs baru menghadap sekitar sebulan yang lalu) nampaknya mahasiswi ini cukup memahami langkah-langkah yang harus dilakukannya. Mengapa saya sebut dipaksakan? Karena ybs selalu memaksa saya untuk senantiasa ada setiap dia ingin bimbingan dengan alasan ingin mengejar jadwal Bimbingan Tugas Akhir di bulan ini, padahal kadang jadwal mengajar saya penuh (duh!
). - Dan sedihnya, mahasiswi tersebut akhirnya menyatakan bahwa ia kuliah ilmu komputer atas kehendak orang tuanya yang tak sanggup ia tolak. Oh nak, inikah yang disebut berbakti kepada orang tua dengan mengikuti kehendak mereka tapi menjalaninya setengah hati dan tidak konsekuen? Bukankah orang tua adalah sosok bijaksana yang akan mengerti pendapat putrinya, anak-anaknya, jika disampaikan dengan baik? Apakah disebut berbakti dengan membiarkan orang tua membanting tulang untuk biaya kuliah, tetapi anaknya menjalani kuliah dengan “belang-blentong”?
- Apakah karena saya perempuan kemudian ybs memilih saya sebagai pembimbing dengan harapan saya akan memaklumi kelakuannya? Apakah saya harus memberikan rasa iba untuk kondisinya? Tidak. Saya justru iba dengan kelakuannya, dengan tindak tanduknya yang justru tidak memberikan kontribusi apapun untuk menaikkan bahkan untuk sekedar menjaga martabat perempuan.
Oh,… dan saya tidak tahu harus berkata apa lagi…
berkomentar pada jam 3:31 pm
tanggal 10 March 2006
Saya melihat cerita di atas adalah salah satu contoh dari sebuah masalah yang lebih luas dan berakar pada pendidikan dalam keluarga. Ini bukan sekedar tindakan merendahkan martabat (wanita), karena bisa juga terjadi pada gender yang lain. Perhatian saya adalah pada kenyataan bahwa semua itu terjadi akibat pengambilan keputusan yang dilakukan secara tidak sadar.
Tidak sadar bukan berarti dalam keadaan terhipnotis lho – hipnotis sedang ngetren- dalam hal ini tidak sadar akan akibat dan konsekwensi dari suatu pengambilan keputusan. Dan juga ketidak beranian mengambil resiko dalam hidup ketika sadar bahwa dia tidak cukup konsekwen terhadap pilihannya atau yang dijalani tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Pabaliut nya’?
Nah, sikap mental yang sadar dan konsekwen (keren kan?) itu buah dari pendidikan panjang yang mula2 kita dapat dari keluarga, lalu dari para guru di sekolah-idealnya. Maka dari itu, jadi tantangan untuk para orang tua dan pendidik bagaimana menghasilkan generasi masa depan yang keren.Semua dimulai dari rumah, membiasakan dialog dua arah dengan anak2 kita, memberi penghargaan atas segala pendapat mereka, memberi kebebasan memilih setelah terlebih dahulu mendiskusikan akibat dan resiko dari pilihan2nya. Dan pada akhirnya sebagai orang tua tetap siap sedia menampung keluh kesah anaknya dalam menjalani pilihannya dan selalu mendukung mereka menjalaninya.
Hah…begitu…mudah2an ‘nyambung’ dengan curahan hati Bu Dosen nih. Tenang aja bu…inilah romantika pejuang pendidikan. Namanya juga pendidik, harus siap menemukan kasus2 miring yang perlu diluruskan. Dan sangat beruntung para pendidik punya tangan yang lebih panjang dan kesempatan lebih luas untuk memperbaiki mutu bangsa pada umumnya dan mutu wanita pada khususnya.
Siip, keep up the spirit bu! Hidup para pejuang hak-hak wanita!
berkomentar pada jam 7:30 pm
tanggal 10 March 2006
Wah, kyknya gue mesti ati2 menghadapi kasus kyk gini nih yul:-?:-?
Btw, mhswi mu itu cantik ndak? Suruh bimbingan sama gue aja say, hehehe:d:d
Sabaar ya bu, elo termasuk wanita taft dan ‘beda’ kok..:)