<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: HMOn: Martabat Perempuan</title>
	<atom:link href="http://yuliazmi.com/2006/03/09/hmon-martabat-perempuan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yuliazmi.com/2006/03/09/hmon-martabat-perempuan/</link>
	<description>Blognya Yuliazmi, tempat Corat - Coret segala sesuatu yang ingin dituliskan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2011 08:57:59 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Atmojo</title>
		<link>http://yuliazmi.com/2006/03/09/hmon-martabat-perempuan/comment-page-1/#comment-295</link>
		<dc:creator>Atmojo</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Mar 2006 12:30:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yuliazmi.com/2006/03/09/hmon-martabat-perempuan/#comment-295</guid>
		<description>Wah, kyknya gue mesti ati2 menghadapi kasus kyk gini nih yul:-?:-?
Btw, mhswi mu itu cantik ndak? Suruh bimbingan sama gue aja say, hehehe:d:d
Sabaar ya bu, elo termasuk wanita taft dan &#039;beda&#039; kok..:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, kyknya gue mesti ati2 menghadapi kasus kyk gini nih yul:-?:-?<br />
Btw, mhswi mu itu cantik ndak? Suruh bimbingan sama gue aja say, hehehe:d:d<br />
Sabaar ya bu, elo termasuk wanita taft dan &#8216;beda&#8217; kok..:)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nana</title>
		<link>http://yuliazmi.com/2006/03/09/hmon-martabat-perempuan/comment-page-1/#comment-290</link>
		<dc:creator>nana</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Mar 2006 08:31:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yuliazmi.com/2006/03/09/hmon-martabat-perempuan/#comment-290</guid>
		<description>Saya melihat cerita di atas adalah salah satu contoh dari sebuah masalah yang lebih luas dan berakar pada pendidikan dalam keluarga. Ini bukan sekedar tindakan merendahkan martabat (wanita), karena bisa juga terjadi pada gender yang lain. Perhatian saya adalah pada kenyataan bahwa semua itu terjadi akibat pengambilan keputusan yang dilakukan secara tidak sadar.

Tidak sadar bukan berarti dalam keadaan terhipnotis lho - hipnotis sedang ngetren- dalam hal ini tidak sadar akan akibat dan konsekwensi dari suatu pengambilan keputusan. Dan juga ketidak beranian  mengambil resiko dalam hidup ketika sadar bahwa dia tidak cukup konsekwen terhadap pilihannya atau yang dijalani tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Pabaliut nya&#039;?

Nah, sikap mental yang sadar dan konsekwen (keren kan?) itu buah dari pendidikan panjang yang mula2 kita dapat dari keluarga, lalu dari para guru di sekolah-idealnya. Maka dari itu, jadi tantangan untuk para orang tua dan pendidik bagaimana menghasilkan generasi masa depan yang keren.Semua dimulai dari rumah, membiasakan dialog dua arah dengan anak2 kita, memberi penghargaan atas segala pendapat mereka, memberi kebebasan memilih setelah terlebih dahulu mendiskusikan akibat dan resiko dari pilihan2nya. Dan pada akhirnya sebagai orang tua tetap siap sedia menampung keluh kesah anaknya dalam menjalani pilihannya dan selalu mendukung mereka menjalaninya.

Hah...begitu...mudah2an &#039;nyambung&#039; dengan curahan hati Bu Dosen nih. Tenang aja bu...inilah romantika pejuang pendidikan. Namanya juga pendidik, harus siap menemukan kasus2 miring yang perlu diluruskan. Dan sangat beruntung para pendidik punya tangan yang lebih panjang dan kesempatan lebih luas untuk memperbaiki mutu bangsa pada umumnya dan mutu wanita pada khususnya.

Siip, keep up the spirit bu! Hidup para pejuang hak-hak wanita!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya melihat cerita di atas adalah salah satu contoh dari sebuah masalah yang lebih luas dan berakar pada pendidikan dalam keluarga. Ini bukan sekedar tindakan merendahkan martabat (wanita), karena bisa juga terjadi pada gender yang lain. Perhatian saya adalah pada kenyataan bahwa semua itu terjadi akibat pengambilan keputusan yang dilakukan secara tidak sadar.</p>
<p>Tidak sadar bukan berarti dalam keadaan terhipnotis lho &#8211; hipnotis sedang ngetren- dalam hal ini tidak sadar akan akibat dan konsekwensi dari suatu pengambilan keputusan. Dan juga ketidak beranian  mengambil resiko dalam hidup ketika sadar bahwa dia tidak cukup konsekwen terhadap pilihannya atau yang dijalani tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Pabaliut nya&#8217;?</p>
<p>Nah, sikap mental yang sadar dan konsekwen (keren kan?) itu buah dari pendidikan panjang yang mula2 kita dapat dari keluarga, lalu dari para guru di sekolah-idealnya. Maka dari itu, jadi tantangan untuk para orang tua dan pendidik bagaimana menghasilkan generasi masa depan yang keren.Semua dimulai dari rumah, membiasakan dialog dua arah dengan anak2 kita, memberi penghargaan atas segala pendapat mereka, memberi kebebasan memilih setelah terlebih dahulu mendiskusikan akibat dan resiko dari pilihan2nya. Dan pada akhirnya sebagai orang tua tetap siap sedia menampung keluh kesah anaknya dalam menjalani pilihannya dan selalu mendukung mereka menjalaninya.</p>
<p>Hah&#8230;begitu&#8230;mudah2an &#8216;nyambung&#8217; dengan curahan hati Bu Dosen nih. Tenang aja bu&#8230;inilah romantika pejuang pendidikan. Namanya juga pendidik, harus siap menemukan kasus2 miring yang perlu diluruskan. Dan sangat beruntung para pendidik punya tangan yang lebih panjang dan kesempatan lebih luas untuk memperbaiki mutu bangsa pada umumnya dan mutu wanita pada khususnya.</p>
<p>Siip, keep up the spirit bu! Hidup para pejuang hak-hak wanita!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

