Cuti sudah selesai... harus gak ketemu Agha deh pas jam kantor. Bunli di kampus, Agha sekolah di rumah Nenek. Hmmm, kangen Agha...

Kerikil

Dikirim: March 16th, 2006 | Oleh: | Kategori: Diary, Renungan | 3 Komentar »

Bocah lelaki mulai melangkah
Tangannya membawa maket buatannya
Ya, maket cerita kehidupan impiannya
Hati-hati dibawa menuju tempat yang teduh
Agar ia dapat mulai memainkannya

Lihat Ibu, maket buatanku
Serunya tegas semantap langkahnya
Sang Ibu tersenyum
Hebatnya jagoan tercintaku…
Bersyukur…, memuja…

KerikilTetapi
Sebongkah kerikil mengganggunya
Langkahnya terantuk dan seketika goyah
Ibu…!, kiamat menderaku…!
Sang bocah berseru, pucat
Matanya serta merta serasa kelam
Hatinya tercekat,
Maket impiannya terserak

Sabar Sayang…
Ibu merayu, menghampiri
Menemani bocah meraih maketnya
Pelan-pelan dirakitnya kembali
Sabar Sayang…, hatinya pilu tanpa daya tuk membantu
Lihatlah maket ini dapat diperbaiki

Sedihnya mulai pupus
Walau sakitnya masih pilu
Kerikil ini akan menguatkanmu
S’hingga batu gunung akan malu mengganggumu
Tak akan halangi langkahmu nanti


Sabar Sayang….,
Itu hanya kerikil bagimu…

-pendamping hati-|-20060314-