Kopdar Penganti Tahun Baruan
Dikirim: January 27th, 2009 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: Diary, Serba-serbi | 2 Komentar »
Apa acara tahun baruan kami? Hihihi, gak jelas. Karena gak punya ide mau kemana lalu sudah terlambat untuk makan malam akhirnya diputuskan jadi ke tempatnya Kania, teman plurker yang juga blogger. Karena sudah kemalaman plus macet, kami pergi seadanya, mengandalkan plurk.com untuk komunikasi. Sayangnya si Plurk sedang rewel sehingga kami tidak dapat menghubungi Kania saat tiba di tempatnya. Anehnya kok sepi? sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mungkin acaranya sudah selesai lalu pada jalan keluar menghabiskan malam.
Akhirnya kami mendamparkan diri di WETIGA…, sudah sepi juga, hanya ada Edo dan beberapa teman lainnya yang asyik gitaran sambil WIFI-an. Kebetulan gitarnya Yahyo masih di mobil, so 2 gitar meramaikan malam (bukan Yahyo yang main, tangannya masih kaku). Habis nyanyi-nyanyi sambil ngobrol, kami pamit pulang. Penasaran dengan malam Tahun Baru di Ibukota, akhirnya menghabiskan bensin mengukur Sudirman-Thamrin plus tol JORR sampai ke Bintaro.
1 Januari 2009, barulah plurking sana sini seputar sepinya tempat Kania. Akhirnya kami putuskan mau nonton di Citos 21, mau nonton Autralia sambil kopdar sebentar dengan Bambam & Luki. Sayangnya teaternya penuh, plus tangga yang dari biskop tidak seluruhnya eskalator, cuma tangga biasa, gagal deh nontonnya. Karena gagal nonton kopdarnya jadi extend deh.
Janjian di Secret Recipe, ketemu lagi sama Bambam dan Luki yang tadi sempat ketemu di foodmart. Pesan makanan sambil ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu Kania yang akan menyusul. Obrolan dilanjutkan lagi bersama Kania. Entah gimana ceritanya akhirnya pada tahu kalau saya merajut, dan rajutan syal centil pesanan Chubby akhirnya keluar dari tas rajutan saya. Diluar dugaan ternyata Bambam sangat ingin merajut, bikin kupluk seperti yang dipakainya. Kania juga pengen banget merajut, alhasil muncul deh wacana untuk ngajarin merajut.
Kopdar akhirnya pindah tempat ke Roti Bakar Wiwied (RBW) di Fatmawati, kalau menurut Kania istilahnya Pintong (pindah tongkrongan). Ternyata diantara kami berlima gak ada yang ngerti pintong kecuali Kania, jadilah bahan cela-celaan, hihihihi, bahasa Jakarta Coret. Nah akhirnya disini juga diputuskan bahwa saya harus mengajari merajut, plus mengantarkan belanja benang dan hook sebagai peralatan perang hari Jum’at besoknya. Wah pada antusias gitu, malah bilangnya mau belajar merajut, bikin sepatu untuk kadonya Junior, wah wah. So pulang dinihari lagi langsung tidur blas.
berkomentar pada jam 11:53 am
tanggal 28 January 2009
salut buat om yang pintar merajut.. hehehe
salam ya bunli!
berkomentar pada jam 9:01 am
tanggal 5 February 2009
@AndyMSE: okeh pakdhe