Cuti sudah selesai... harus gak ketemu Agha deh pas jam kantor. Bunli di kampus, Agha sekolah di rumah Nenek. Hmmm, kangen Agha...

Sri Lassini

Dikirim: August 11th, 2015 | Oleh: | Kategori: Serba-serbi | 2 Komentar »

Ibu, perempuan yang melahirkan lelaki yang menjadi suami saya. Pertama kali bertemu saat beliau dan Bapak almarhum datang ke Bekasi, kala mereka mengunjungi putra tertuanya. Bersama Bapak, beliau menyambut saya dengan hangat, membuyarkan kekhawatiran saya yang was-was bertemu orang tua pacar. Masih pacar ya…belum genap setahun saya kenal dengan putranya, belum berani bilang calon mertua, walau pacar saya sudah declare kalau dia cari calon istri bukan pacar. Dipertemuan itu, Ibu juga menyambut saya dengan terbuka, bahkan saya, sambil ngobrol macam-macam, didaulat melanjutkan memotong-motong kacang tanah untuk dibuat kasreng, rempeyek kalau kata saya. Tapi rasanya sore itu Ibu gak menggoreng kasreng, mungkin untuk besoknya. Hmm, jangan-jangan lagi di-tes cocok gak jadi bakal calon mantu nih.

Setelah saya lulus kuliah, sehabis pulang kampung dengan Papa, saya berkunjung ke Bandung ke rumah di Cigadung. Sampai sana saya disambut dengan hangat. Ibu bahkan membuat crakers goreng isi rogout khusus menyambut saya, berlanjut dengan memberitahukan bahan dan cara membuatnya. Kunjungan saat itu penuh dengan berbagai cerita yang bergantian dari Bapak dan Ibu…, waktu itu sih terkadang Ibu masih membahasakan dirinya Tante. Sampai akhirnya saya menikah dan menjadi menantu bungsu di keluarga Bapak dan Ibu, mereka berdua senang sekali bercerita bermacam-macam hal. Pengalaman masa muda mereka, tingkah polah masa kanak-kanak suami dan kakak-kakaknya serta hal lainnya. Dulu, terkadang Ibu masih membahasakan dirinya Tante, apalagi kalau bercerita tentang masa lampau. Tapi kalau tersadar pasti langsung meralat menjadi Ibu.

Ibu sangat suka menjahit, bisa merajut, suka masak, senang tanaman dan tentu saja suka bercerita. Maka setiap kali kami sowan ke Bandung ada saja topik pembicaraan seputar hal-hal tersebut. Kadang Ibu memamerkan baju yang dijahitnya sendiri dengan gaya kombinasi, atau rombakan baju hadiah karena kurang pas dibadannya sehingga kemudian kami larut dalam bahasan tentang pola, tubruk model, fungsional modifikasi. Atau kadang hanya sebatas laporannya kalau gak selesai-selesai menjahit karena bahan untuk kombinasi belum didapat atau banyak kegiatan pergi-pergi. Ibu senang menjahit sesuatu yang lengkap, kadang rompi, selendang atau minimal kerudung topi yang senada dengan bajunya. Sttt…. saya kalah lho soal me-match-kan busana dibanding Ibu, kalah jauh deh.

Ibu itu ratunya dapur, rumah Cigadung adalah kerajaannya jadi apapun dihandle oleh ibu. Diawal pernikahan saya, saat Ibu belum terlalu sepuh pasti masak berbagai makanan jika kami sowan. Kadang sudah selesai masak sendiri saat kami datang, besoknya sudah masak macam-macam lagi sesuai kehendak hatinya. Biasanya saya menemaninya sambil ngobrol dan membantu sebisanya. Sebatas mengupas, memotong, mencuci sayur, mengangkat gorengan atau hanya sekedar mencicip apakah rasanya sudah pas. Nto-nto, bacem, bala-bala, kasreng, bruine bonen (sup kacang merah), lodeh, sup makaroni, dadar tahu pasti dibuatkan salah satunya jika kami datang. Makin kemari, semakin sepuh biasanya kami tidak memberitahukan kalau mau ke Bandung agar Ibu tidak repot. Kalaupun mengabari pasti sudah siang atau sore sehingga Ibu gak sempat belanja macam-macam di tukang sayur. Kalau gak gitu pasti Ibu sudah repot sendiri bikin macem-macem gak ingat kalau kami tak ingin beliau capek.

Ibu paling senang memanggilkan tukang cwan-kie kalau kami ke Bandung, karena saya suka bakso khas Bandung itu. Biasanya kami makan rame-rame. Tapi setahun ini Ibu sudah tidak terlalu suka, mungkin bosan. Tapi yang jelas Ibu pasti bilang itu tukang cwan-kie langganan Ibu dulu 🙂 Sesekali kami pergi makan keluar bersama, mencoba makan di tempat makan yang direferensikan Ibu, hasil obrolan kuliner dengan teman-teman pengajiannya di kompleks.

Ibu itu orangnya apik, apa saja yang menurutnya memiliki nilai atau kisah pasti disimpan dan dirawat. Saya pernah membuatkan bros rajut dalam kotak kertas buatan sendiri. Sampai akhir hayatnya bros tersebut masih lengkap dengan kotaknya di meja hiasnya. Ibu juga menyimpan dengan rapi entah surat, foto, kado, oleh-oleh atau apapun dari teman maupun saudara yang disayanginya. Bahkan surat corat-coret Agha kecil yang dikirim bersamaan dengan foto Agha & Eyang via jasa kurir juga bungkus goodie bag ultah Agha ke-6 disimpan rapi.

Ibu sangat bangga dengan anak-anaknya, juga cucu-cucunya. Ada saja kisah maupun kenangan yang diingatnya tentang masing-masing anak dan cucunya. Tak bosan-bosan ibu menceritakannya terutama dalam 10 tahun terakhir sejak ditinggal Bapak almarhum. Ah, semoga cucu-cucunya nanti selalu ingat betapa eyang-nya sangat sayang pada mereka. Bahkan saat dirawat di Rumah Sakit karena ditemukan pingsan di rumah, Ibu tetap mengingat dan mengkhawatirkan cucu-cucunya.

Bu, maaf ya. Waktu Ibu dirawat di kamar rawap inap dan ngotot ingin ke toilet, Yuli terpaksa bohongin Ibu. Ibu kekeuh sih gak mau BAB di pampers, padahal Ibu belum kuat untuk berdiri, bahkan untuk mendorong tubuh sendiri membetulkan posisi tidurnya. Maaf ya Bu, Yuli bilang toiletnya antri, toiletnya penuh, toiletnya jauh karena kalau gak gitu Ibu mau memaksakan diri untuk bangun. Ibu kekeuh bilang gak bisa BAB di pampers, padahal sudah sangat tidak tahan. Untung akhirnya Ibu mau diberi obat pencahar sehingga kemudian lega setelah BAB di pampers. Maaf ya Bu, tanaman di rumah cuma sempat 2 kali Yuli siram. Pas Ibu pulang dari rumah sakit ke Parakan sebelum kami pulang ke Jakarta dan waktu kami akan kembali ke Jakarta setelah pemakaman Ibu. Tanaman Ibu seakan tahu Ibu sudah pulang ke haribaan-Nya… mereka mulai layu. Beberapa sudah punya rumah baru Bu, mudah-mudahan mereka terus tumbuh subur ya.

Bu, semoga Ibu senang di alam sana, akhirnya bisa berkumpul bersama Bapak. Ibu mau merayakan ultah Bapak berdua disana ya. Semoga Ibu senang dan bahagia ya, salam buat Bapak ya Bu. Doa kami untuk Bapak dan Ibu.

 

Sri Lassini, 16 Juli 1935 – 5 Agustus 2015


2 komentar untuk “Sri Lassini”

  1. 1
    dina pratikto
    berkomentar pada jam 11:43 am
    tanggal 12 August 2015

    Bahasa yg tertata rapi, seolah mpsilakan semua org yg mbaca turut larut dlm indahnya kenangan seorang ibu yg sederhana tetapi begitu kaya dengan kasih sayang bagi keluarganya…
    Makasih buniiiii…
    smg yg bagus2 dr pjlnan RT ibu dan bapak alm menjadi kekayaan tambahan buat RT bunLi, yahYo n Agha yaaaa… doa yg terbaik selalu….

  2. 2
    Yuliazmi
    berkomentar pada jam 4:04 pm
    tanggal 27 August 2015

    Amin mba Dina


Isi Komentar