Dikirim: July 23rd, 2008 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: HMOn, Serba-serbi | Tags: HMOn perokok | 32 Komentar »
Grrr…, lagi-lagi perokok bikin saya kesal, di pagi hari mau berangkat kerja pula. Ugh bikin awal yang buruk aja. Kemarin hari bikin sebel dan bikin malu sekarang tambah lagi.
Baca Selengkapnya »
Dikirim: June 26th, 2008 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: HMOn | 10 Komentar »
Ini cerita minggu lalu, sebel banget. Kalau dipikir-pikir mungkin ini salah satu sebab mengapa bangsa kita diremehkan bangsa lain, wong beberapa warga negara ini tidak menghargai dirinya dan bangsanya sendiri
Minggu lalu, dengan tergesa harus mencapai Plaza Semanggi, saya naik bus Patas AC 44 jurusan Senen dari depan kampus. Karena penumpang masih sepi bus yang saya tumpangi melakukan ritual “ngetem” didepan salon Cantik. “wah semoga gak lama deh ngetemnya“, saya ngebathin sambil membayar ongkos yang diminta kenek. Nah waktu bayar ongkos ini saya baru perhatikan bahwa didepan saya penumpangnya seorang pria bule.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba si bule itu bangun celingukan dan menuju pintu depan. Kebetulan saya duduk dibangku ke dua dari depan sehingga saya bisa menyaksikan langsung kejadian yang nantinya bikin saya BETE seperjalanan.
Baca Selengkapnya »
Dikirim: May 3rd, 2008 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: HMOn | 14 Komentar »
Sebenarnya kami –saya dan suami– sudah cukup sering mengalami hal ini. Jadi pengen diposting tapi gak jadi-jadi. Tapiii, sehabis berkunjung ke blog-nya pengantin baru dan baca postingnya yang ini saya jadi beneran pengen posting deh
Dalam keseharian kami berinteraksi dengan banyak orang ternyata sering terjadi “salah paham” dalam menyebutkan kata, nama atau istilah yang berasal dari bahasa Inggris. Malah kadang saat kami mengatakan sesuatu ternyata didengar oleh lawan bicara kami SANGAT jauh berbeda
Yang paling sering adalah kalau kami pesan teh kemasan botol bermerek Fruit Tea saat makan. Setelah ditunggu beberapa saat pasti yang diantarkan ke meja kami adalah dua gelas air putih
Waduh kok bisa ya?
Trus apa lagi ya? Lha kok jadi pada lupa, mungkin karena hal ini benar-benar bikin geleng-geleng kepala alias Heran Mode saya jadi On. Makanya posting ini masuk katagori HMOn. nanti kalau sudah ingat lagi diposting lagi deh. Halah!
Dikirim: November 23rd, 2007 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: HMOn, Teknoblogia | 25 Komentar »
Duh, ini sudah kesekian kalinya saya dibuat geram oleh mahasiswa karena alamat email, tepatnya mahasiswa yang sedang mengikuti UTS. Bagaimana tidak, sejak awal saya sudah mengingatkan bahwa dikelas saya, dibutuhkan alamat email masing-masing untuk mengikuti ujianĀ tengah semester. Alamat email juga dibutuhkan saat harus mensubmit tugas. Nah, saya sudah ingatkan untuk memiliki alamat email yang benar –baca: benar ditulis, benar dimiliki sendiri dan benar masih aktif. Tapi kok ya masih ada aja yang mengabaikannya
Baca Selengkapnya »
Dikirim: January 16th, 2007 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: Diary, HMOn | 15 Komentar »
Walah, sepertinya HMOn selalu terbit setiap kali UAS berlangsung. Buktinya saya posting ini semester lalu… dan yang ini tahun lalu. Sekarang, saya posting HMOn lagi
HMOn saya kali ini tentang jawaban ujian. Sewajarnya ujian, jawaban yang dibuat sesuai dengan pertanyaan yang diberikan. Jawaban bervariasi dari yang benar dan tepat, mendekati benar sampai yang ngecap abis plus surat cinta. Nah, kemarin saat mulai mengoreksi ujian yang pertama dari kelas saya, surat cinta kembali saya temui. Ada yang intinya minta belas kasihan ada yang berjiwa besar mengakui tidak bisa dan akan mengulang lagi dari pada menjawab dengan mencontek. Duh, kok mulai muncul tendensi “berjiwa peminta-minta” ya? dikit-dikit kok kasihan… Ini kan jalan perjuangan mereka untuk berhasil dimasa nanti.
Baca Selengkapnya »
Dikirim: August 3rd, 2006 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: Diary, HMOn | 5 Komentar »
Rasanya semua orang sudah tidak asing lagi dengan barcode mengingat hampir semua produk dari produsen industri besar akan menyertakan pengenal ini disetiap kemasan barangnya. Lihat saja produk susu, mie instant, makanan ringan yang sangat digemari anak-anak dan produk kebutuhan harian lainnya. Selain itu ada juga penjual (baca: toko) yang menambahkan label barcode harga, umumnya di pasar swalayan atau toko buku besar. Dan gara-gara barcode ini saya dikirain kerja di Hero Supermarket… Gubrak!
Baca Selengkapnya »
Dikirim: July 10th, 2006 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: HMOn, Serba-serbi | 10 Komentar »
Huhuhu…, baru aja posting ulang tahun pernikahan bukannya dapat kado yang menyenangkan malah dapat “surat cinta”"
Heran kan? Dapat “Love Letter” kok malah sedih dan masuk kategori HMOn pula
Hiks, surat cintanya lagi-lagi dari mahasiswa
Saya dapat surat cintanya barusan, saat mengoreksi hasil UAS semester ini. Duh
ternyata dapat surat cinta lagi, kirain sudah berakhir semester lalu.
Pusying deh, hERan saya Ini saya kutip blas dari lembar jawabannya: (saya pecah paragraf-nya biar gak pusing bacanya)
Baca Selengkapnya »
Dikirim: June 30th, 2006 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: Diary, HMOn | 10 Komentar »
“Yang itu susah…”, atau “Yang itu susah Mbak, mau beli yang sudah jadi?”
Blah! kalimat ini sudah berkali-kali saya dengar. Terakhir kali 25 Juni lalu saat saya mampir lagi ke toko Aladin yang menjual puzzle 4 dimensi dan mainan lainnya di Plaza Bintaro. Jadi menurut saya hal ini layak masuk HMOn /:)
Baca Selengkapnya »
Dikirim: March 24th, 2006 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: HMOn, Renungan, Teknoblogia | 11 Komentar »
Akhirnya sempat juga bikin HMOn soal ini. Ya, seperti judulnya memang itulah kenyataan yang saya lihat di Indonesia ini, tepatnya dilingkungan sekitar saya. Sejak saya kenal sama yang namanya komputer dan aplikasi word processor dari Microsoft ini kok saya mendapati mereka menggunakan Microsoft Word sebagaimana layaknya mesin tik manual yang kebetulan bisa diberi gambar, tabel dan warna… just it!
Padahal sangat banyak fitur yang disediakan untuk mempermudah kerja dalam pembuatan dokumen.
Dimana salahnya ya?
Rasanya dulu saya juga tidak mendapatkan pengetahuan ini di bangku kuliah, mungkin karena jaman saya kuliah kurikulum praktikumnya belum sampai kesana? one excuse… Atau dulu belum semua orang mempunyai komputer dan lebih populer aplikasi WS dalam berbagai versi? (WS4, WS5, WS7…) another excuse.
Bagaimana dengan sekarang…? seingat saya sekarang ini di SMP dan SMA ada jatah belajar di lab komputer bagi semua siswanya…, diajarkankah? Karena begitu saya bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa saya mereka juga mengaku tidak pernah mengetahuinya. Dimana missing link-nya? Tidak adakah kesepakatan dalam penetapan kurikulum sekolah menengah dengan kurikulum perguruan tinggi? Atau hanya berdasarkan asumsi “ah, ini pasti AKAN diajarkan di perguruan tinggi karena tingkatnya sudah advanced” dan sebaliknya “ah, ini pasti SUDAH diajarkan di sekolah karena ini basic penggunaan“…? another more excuse, Duh, pantas gak pernah ketemu
Lalu bagaimana?… bukankah di aplikasi tersebut sudah tersedia fasilitas help yang menerangkan seluruh fitur dan menjelaskan penggunaannya? Pengguna tinggal meluangkan waktu sejenak untuk menyimaknya dan langsung mempraktekkannya… tidak punya waktu? cukup melihat help pada bagian yang sedang dibutuhkan saja! Sulit/malas karena help-nya dalam bahasa Inggris? That’s not an excuse anymore!! Sedemikian banyak alasankah masyarakat Indonesia?
Duh heran saya, padahal fasilitas tersebut sangat meringankan kerja saat membuat tugas… Pembuatan daftar isi secara otomatis (table of content) dan reference lainnya, pemberian auto caption untuk setiap gambar dan tabel, penggunaan paragraph – formatting style, penyisipan section break untuk format halaman yang berbeda…, auto numbering…, show formatting mark yang kata suami saya karakter aneh, dan sebagainya.
Duh, rasanya saya ingin posting tentang fasilitas-fasilitas itu… Heran saya…, gimana yah?
0
Dikirim: March 9th, 2006 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: HMOn, Renungan | 2 Komentar »
Hari ini saya dibuat tak habis pikir tentang perempuan,… bukan… bukan karena mengenai RUU APP yang sedang marak dengan kaum perempuan sebagai salah satu topiknya. Saya tak habis pikir dengan kondisi bahwa banyak hal yang menurunkan martabat perempuan dan ini dilakukan oleh kaum perempuan itu sendiri.
Sebagai seorang perempuan, saya sebisa mungkin untuk selalu menjaga martabat kaum ini. Berusaha untuk dapat setegar, semandiri dan segigih mungkin dalam porsi yang dapat dilakukan oleh perempuan. Saya tidak berusaha melawan kodrat, bahwa kaum perempuan memang masih memerlukan perlindungan dan uluran tangan dari kaum laki-laki, katakanlah dari para Ayah dan Suami maupun saudara laki-laki. Selagi mampu untuk melakukan ataupun membuktikan sesuatu sendiri, mengapa harus mengiba-iba sebagai kaum lemah yang tak punya daya?
Menurut saya martabat suatu kaum ditentukan oleh kaum itu sendiri, barulah anggapan, pandangan dan penerimaan kaum lainnya turut menguatkannya. Menurut saya bagaimana masyarakat bisa menghargai perempuan kalau perempuannya sendiri merendahkan martabat mereka dengan cara seperti ini….., seperti yang saya alami tadi siang:
Seorang mahasiswi yang menjadi bimbingan KKP saya datang untuk penilaian hasil pengamatannya dalam bentuk demo program sesuai topik pilihannya. Bimbingan itu sendiri hanya mencakupi kegiatan analisis topik dan persiapan rancangan sistem yang diangkat serta penulisan pelaporan (diluar pembuatan program).
Ternyata dia tidak menguasai program buatan tersebut! Memang dimungkinkan seorang mahasiswa tidak sepenuhnya membuat program sendiri dengan catatan ybs memahami algoritma/kerangka pikir dan penggunaan program tersebut. Tapi kenyataannya ybs bahkan tidak menguasai hal-hal dasar saat bekerja dengan komputer! Oh nak, kemana saja kamu selama kuliah? kemana saja kamu selama kegiatan praktek di lab. komputer??? Seketika kepala saya berdenyut-denyut, terhenyak.
Selama bimbingan kilat yang sedikit “dipaksakan” olehnya (karena ybs baru menghadap sekitar sebulan yang lalu) nampaknya mahasiswi ini cukup memahami langkah-langkah yang harus dilakukannya. Mengapa saya sebut dipaksakan? Karena ybs selalu memaksa saya untuk senantiasa ada setiap dia ingin bimbingan dengan alasan ingin mengejar jadwal Bimbingan Tugas Akhir di bulan ini, padahal kadang jadwal mengajar saya penuh (duh!
).
Dan sedihnya, mahasiswi tersebut akhirnya menyatakan bahwa ia kuliah ilmu komputer atas kehendak orang tuanya yang tak sanggup ia tolak. Oh nak, inikah yang disebut berbakti kepada orang tua dengan mengikuti kehendak mereka tapi menjalaninya setengah hati dan tidak konsekuen? Bukankah orang tua adalah sosok bijaksana yang akan mengerti pendapat putrinya, anak-anaknya, jika disampaikan dengan baik? Apakah disebut berbakti dengan membiarkan orang tua membanting tulang untuk biaya kuliah, tetapi anaknya menjalani kuliah dengan “belang-blentong”?
Apakah karena saya perempuan kemudian ybs memilih saya sebagai pembimbing dengan harapan saya akan memaklumi kelakuannya? Apakah saya harus memberikan rasa iba untuk kondisinya? Tidak. Saya justru iba dengan kelakuannya, dengan tindak tanduknya yang justru tidak memberikan kontribusi apapun untuk menaikkan bahkan untuk sekedar menjaga martabat perempuan.
Oh,… dan saya tidak tahu harus berkata apa lagi…
Recent Comments