Cuti sudah selesai... harus gak ketemu Agha deh pas jam kantor. Bunli di kampus, Agha sekolah di rumah Nenek. Hmmm, kangen Agha...

Menjelang Wisuda: Upload Tesis

Dikirim: April 14th, 2006 | Oleh: | Kategori: Diary, Kenangan, Serba-serbi | 3 Komentar »

Cover TesisTidak terasa sebentar lagi saya mengikuti wisuda Magister setelah kuliah Magister Komputer sejak tahun 2004 di Universitas Budi Luhur. Alhamdulillah tesis saya selesai disusun dan telah dipertahankan pada tanggal 29 November 2005 sekitar pukul 20.20. Hmmm, jadi ingat Abuba steak nih… 8->

Tesis saya mengangkat tentang Knowledge Management yang diperkenalkan oleh Dosen saya , Drs. Nazir Harjanto, MSc. Saya membahas kemungkinan Penerapan KM berbasis Web di tempat riset saya yang memiliki core bisnis reasuransi. Ide untuk membahas penerapan KM ini saya dapatkan dari diskusi saya dengan Riyogarta, suami tercinta, makasih ya Yang 😡 Kemungkinan penerapan ini dilihat dari sisi dukungan infrastruktur dan sudah adanya aktifitas sharing knowledge antar pegawai dalam sebuah bagian.

Dalam tesis ini saya menggunakan Focus Group Disscussion (FGD) sebagai metodologi penelitian. FGD ini dikenalkan oleh pembimbing saya Prof. Dr. Ir. Marsudi W Kisworo

Baca Selengkapnya »


Surat Cinta

Dikirim: March 23rd, 2006 | Oleh: | Kategori: Diary, Kenangan | 9 Komentar »

Hmmm, siang tadi ada surat cinta dari Yayang, tentu saja sekarang bentuknya sudah lebih canggih… bukan surat via pos tapi ini e-mail. Sudah lama gak dapat surat cinta darinya 😡

Dalam sejarah saya dengan yayang, surat cinta memang jarang sekali diobral…, tinggal ngomong langsung atau dia buat dalam bentuk lagu. (Oh iya, kan dulu pengen posting tentang lagu… belum sempat nih) Bisa dihitung dengan jari deh berapa surat yang dia buat… 😀 Tapi tentu saja hati saya selalu tersentuh dengan surat cintanya :”> Kadang sih saya yang suka meninggalkan note buat dia…, tentu saja isinya pesan cinta…, masak pesan bakso siy 😛

  • Surat cinta pertama waktu “nembak” saya… maksudnya dia buat lagu dan saya dikasih catatan liriknya supaya lebih jelas 😉 *ini dihitung surat cinta gak ya?*
  • Waktu dia harus mudik pertama kali semenjak kita pacaran… cuma surat pendek siy, judulnya kangen sama saya dong
  • Buat surat lagi waktu saya sepertinya letih dengan rutinitas hidup saat kuliah S-1, ceritanya dia bingung harus berbuat apa. Love you, Yo!
  • Ada lagi suratnya waktu saya ikut papa pulang kampung beberapa minggu. Betul… dia kangen abis 🙂
  • Pernah juga dia buat surat waktu lembur dikantor…, tiba-tiba kangen dan pengen cerita rencana hidupnya untuk saya… wah saya tersanjung banget dong!

Nah, begitu kita menikah praktis gak pernah surat-suratan lagi (surat cinta-red)… ya abis kita bisa langsung ngomong kan, tinggal telpon, tinggal sms, atau tinggal kirim message lewat mesengger.

Hari ini Yayang kirim surat cinta, yang saya terima seusai keluar kelas. Surat tentang impian dan harapannya. Sayang, selama kamu yakin, aku pasti senang…

Amo Te


Angku ‘Aji

Dikirim: January 9th, 2006 | Oleh: | Kategori: Diary, Kenangan | 1 Komentar »

Abdullah… itu nama kakek dari sepupuku, dan saya sejak kecil memanggilnya Angku ‘Aji (Karena dulu satu-satunya Angku/kakek yang sudah naik haji) atau Angku Radio Dalam (karena sepanjang hayatnya beliau tinggal di Radio Dalam). Ya Angku ‘Aji sebelum menjadi mertua dari Om Jang, adeknya Mama, sebenarnya memang ada hubungan keluarga dengan kami.

Semalam, 8 Januari 2005 beliau meninggal dunia pada pukul 21.15 WIB, dilepas oleh keempat anaknya beserta cucu-cucunya. Om Jang kebetulan alhamdulillah sedang menunaikan rukun Islam yang ke-5, sedang istrinya sudah menunaikan setahun yang lalu.

Saat saya dan suami melayat pagi tadi, tampak almarhum seperti orang yang sedang tidur dengan sangat nyenyak, tenang dan damai… seperti almarhum mertuaku hiks… jadi inget Bapak 🙁 Tanteku bilang tidak ada firasat apa-apa…, semalam Angku malah menghabiskan teh botol (bahkan menanyakan berapa harga teh botol sekarang) dan sepiring nasi goreng.

Mengingat Angku ‘Aji adalah mengingat sesosok kurus yang tinggi berpeci yang mengendarai sepeda kumbang besar kemanapun ia pergi. Kegemarannya memakai kaos oblong Swan dengan celana hitam atau sarung. Dulu jika mampir ke rumah, saat sedang tidak menjaga tokonya di Pasar Mayestik, pasti dengan sepeda kesayangannya itu.

Kadang Angku datang sambil membawa jambu air yang berbuah lebat di rumahnya. Kalau kami berkunjung kesana, pasti ada acara menjolok jambu dengan bambu berjaring kain buatannya, seperti ring basket. Hmmm, manis dan segar! =P~

Angku juga memiliki kegemaran merokok daun enau… sejumput tembakau digulung dalam daun enau menjadi lintingan kecil. Dan dulu kita pasti dapat jatah “merokok” satu batang dari angku… merokok daun enaunya saja 🙂 … wah dulu rasanya gaya banget… padahal setelah beberapa detik “rokok” kami dinyalakan, pasti rokoknya mati 😛

Kenangan rokok enau ternyata bukan hanya milik saya dan adek-adek… ternyata sepupuku di Kumango juga memiliki kenangan yang serupa. Saya baru tahu setelah chatting dengan Alni yang ada di Singapura barusan:

    Yuliazmi (1/9/2006 9:05:39 PM): Dek, ada kabar duka, inget sama angku Haji yg di radio dalam?
    Yuliazmi (1/9/2006 9:06:08 PM): beliau meninggal semalam jam 21.15 .. dan dimakamkan tadi siang
    Alni (1/9/2006 9:07:00 PM): iya
    Alni (1/9/2006 9:07:03 PM): uda adi tadi sms
    Alni (1/9/2006 9:07:10 PM): angku robi…
    Alni (1/9/2006 9:07:36 PM): *alni manggil beliau angku robi* dan sampai alni ke jakarta kemaren beliau masih inget
    Yuliazmi (1/9/2006 9:07:37 PM): kok robi?
    Alni (1/9/2006 9:07:55 PM): iyaa, alni yg manggil begitu waktu kecil2
    Alni (1/9/2006 9:08:17 PM): soalnya kalau ada sesuatu yg aneh beliau bilang ” Ya Robbi…”
    Yuliazmi (1/9/2006 9:08:35 PM): :))
    Yuliazmi (1/9/2006 9:08:45 PM): anak kecil sekalii…
    Alni (1/9/2006 9:09:58 PM): iya…dan beliau jadi selalu inget tiap pulang bilang ” Maa cucu si Robbi”
    Yuliazmi (1/9/2006 9:10:25 PM): iya tadi pagi ulli sama mas riyo melayat…. seperti orang tidur saja… tenang, seperti waktu bapak almarhum meninggal 🙁
    Alni (1/9/2006 9:11:03 PM): iya…alni sempat kaget bentar juga di sms uda…kerasa ada yg hilang, jd inget yg lama2 🙂
    Alni (1/9/2006 9:11:26 PM): beliau kan yg paling sering pulang, paling deket sama kita, paling sering bagi rokok daun enaunya
    Alni (1/9/2006 9:11:43 PM): kita berempat, di kasi rokok sejak kecil
    Yuliazmi (1/9/2006 9:11:50 PM): iya…. dulu aku juga suka ngerokok nya angku
    Yuliazmi (1/9/2006 9:12:04 PM): bukannya daun jagung yak ??
    Alni (1/9/2006 9:12:10 PM): bukan
    Alni (1/9/2006 9:12:12 PM): daun anau
    Alni (1/9/2006 9:13:40 PM): rokok daun anau
    Alni (1/9/2006 9:13:51 PM): kalau angku sih di gulung2 trus di isi tembakau
    Alni (1/9/2006 9:14:04 PM): tapi kalau buat kita di kasi daun anau nya aja
    Yuliazmi (1/9/2006 9:14:10 PM): emang 😀
    Yuliazmi (1/9/2006 9:14:28 PM): dulu kayaknya gaya banget ngerokok 😛
    Yuliazmi (1/9/2006 9:15:22 PM): kalau ke seskoal… biasanya naik sepeda besarnya… kayaknya unik aja gitu….
    Alni (1/9/2006 9:15:52 PM): sampai kapan angku masih sepeda2an?
    Yuliazmi (1/9/2006 9:15:55 PM): trus kadang bawa jambu air… hasil metik pake jaring kain buatannya
    Alni (1/9/2006 9:16:05 PM): iya…angku suka yg begitu2
    Alni (1/9/2006 9:16:13 PM): jadinya deket kalo sama cucu2
    Yuliazmi (1/9/2006 9:16:27 PM): mmmmm, lupa… kayaknya th 2000 kali ya
    Yuliazmi (1/9/2006 9:17:02 PM): tapi kadang kita serem juga sih sm angku…. kayaknya tampangnya gimanaaaa gitu…. apalagi klo lagi serius
    Yuliazmi (1/9/2006 9:17:14 PM): tapi kalau ketawa… lucu terkekeh2
    Alni (1/9/2006 9:18:23 PM): iya

Ya, saya waktu kecil kadang agak seram melihat sosok Angku, bukan karena orangnya menyeramkan. Angku adalah sosok yang saat serius menjadi tegas dan tak dapat ditawar dan bila ada yang tidak biasa pasti berguman “Ya, Robbi…” dengan intonasi yang khas. Namun saat santai, beliau sanggup bergurau dengan tawa dan senyumnya yang khas.

Angku adalah sosok seorang kakek yang ulet, pedagang yang giat dan berhasil serta mandiri hingga akhir hayatnya. Selamat jalan Angku…


xx% (baca: sekian-sekian persen)

Dikirim: December 30th, 2005 | Oleh: | Kategori: Kenangan, Serba-serbi | 3 Komentar »

Manusia xx% … mungkin itu salah satu kata yang dapat menggambarkan suamiku. 😀

Selama 10 tahun mengenalnya, dia sering menggunakan ukuran ini dalam kehidupannya. Dan selama 10 tahun ini sudah 2 kali dia menggunakan ukuran ini untuk progress dari hal besar dalam hidupnya. * hal-hal yang kecilpun sering dipersentasekan, tapi gak usah dihitunglah*

Pertama, setelah beberapa minggu kami resmi pacaran, sesudah saya bertemu dengan kakak dan orang tuanya. Dia 95% yakin dengan kelangsungan hubungan kami untuk serius sampai ke jenjang pernikahan. ck…ck…ck… Kemudian 96% yakin setelah kami bertemu dan berinteraksi dengan keluarga besar masing-masing. Selanjutnya angka tersebut berfluktuasi dalam skala 0,5-1, negatif maupun positif. Hi…hi… maklumlah, anak muda… lagi seneng-dikit angkanya naik, lagi sebel-banget angkanya turun 😛

Waktu pertama dia -seorang diri- melamar saya ke Mama-Papa (karena orang tuanya di Bandung) dan selanjutnya lamaran resmi keluarga dari Bapak-Ibu, sayangku itu menetapkan angka 98% sebagai angka tetap menuju ke pernikahan. Dan begitu tanggal pernikahan ditentukan, angkanya jadi 99% 🙂

Kali yang kedua adalah sekarang, dia langsung mengukirkan angka 98% pada rencana-punya-perusahaan-sendiri saat rancangan pembentukan PT mencapai titik temu. Dan kemarin 29 Desember 2005 rencana tersebut mencapai angka 99% dengan ditandatanganinya akte pendirian PT di hadapan notaris. Investor yang juga menjadi Direktur Utama PT. Prakarsa Ultima Data ini telah melakukan penandatanganan akte pada 28 Desember 2005.

Hmm… tinggal menunggu saat angkanya 100% kemudian entah hitungan apa lagi… 😉

For my xx% man :))


Trio Bebek: Ultah Nung

Dikirim: December 26th, 2005 | Oleh: | Kategori: Kenangan, Serba-serbi | 6 Komentar »

Waktu lagi asyik sight-seeing di Valu$ Bintaro, sementara yayang lagi di seberang, cari CD game yang seru, tiba-tiba…

buzzzz “you’ve got a new message

Hmm, yayang ngasih tau kalau sedang menuju Gramedia. Eh ada 1 sms unread, pasti waktu mau berangkat tadi. Dari Dani…

From Dani 7:51:30 PM: “Bu,hr ini kan ultahnya nung.Gw mo sms dia,nomornya tau gak,dikau?”

Walah, kok jadi blom sms bebek satu itu yak? padahal inget banget kalau dia ultah hari ini … hmm, hrs sms sekarang…ntar nangis lagi doi

To Dani 8:33:50 PM : “0xxxxxxxxx1 g juga baru mo sms doi. pa kabar say?”

Dani memang belum tau nomor baru Nung, soalnya bebek yang ultah itu suka hilang dari peredaran. Halah, Nung memang irit kalau ngasih kabar ke kita-kita. Lha.. wong aku dapat nomor barunya aja karena dia akhirnya * setelah aku minta* nitip sama tetangganya yang satu kampus denganku beberapa bulan lalu. Pasti dia lupa catatan nomorku waktu terakhir telpon-telponan ke rumah orang tuanya sehabis Ming -adeknya- menikah.

To Nung 8:35:44 PM : “Met ultah say. Pa kabar? Mudah2an sukses dan bahagia selalu. Yuli dan Suami”

Habis sms Nung, segera menyusul yayang ke Gramedia dan putar-putar di stationary mo cari binder buat data informal mahasiswa

buzz…

From Nung 8:51:35 PM: “Makasih ya msh inget aja! Gmn kbr lo sekeluarga sdh di ksh momongan blm? Gw sebln lg mau brojol adiknya daffa, mau nyusul kpn?”

To Nung 9:03:58 PM : “Emangnya elu, gak inget ultah ikke. busyet dah mo brojol lagi? G blon nih. Kabar gue baik”

Hi…hi… kalaupun inget pasti doi juga gak bisa ngucapin, wong nomor HP-ku aja baru dia dapet lagi setelah acara titip2an nomor sama tetangganya 😀
Hmm, Nung mo 2, Dani sudah 2, gue kapan yak? * berharap* …

buzz…

From Dani 9:04:00 PM: “Kabar Alhamdulillah baik..Lg sibuk apa,jeng?”

To Dani 9:05:52 PM : “sibuk revisi mo hardcover sama pacaran :-P”

Hi…hi… jadi senyum-senyum sendiri inget bebek-bebek…

From Dani 9:07:58 PM: “Cihui dong pacaran terus…”

buzz…

Nung 9:14:56 PM: “Si Dani kbnya gmn? anaknya udh nambah blm?”

Lha, kok tanya gue? Emangnya Dani gak jadi sms Nung apa? Telpon Dani aja deh, biar jelas…

tut tit tat tit tut … * dialing* kok gak diangkat2? Kemana nih si Ummi Yusuf dan Rasyad…

Sampai rumah O2-ku masih diam manis gak ada sms baru… so bisa khusuk nonton VCD Frankenstein yang baru dibeli yayang.
Tiba-tiba, … buzz…

From Nung 9:44:16 PM: “Si Dani kbnya gmn? anaknya udh nambah blm?”

Dooh, boros sms nih bebek, atau memang sms-nya terkirim berulang-ulang seperti sms lain yang saya terima dari provider yang sama? Udah ah, gak usah dibalas…
….
….
Penasaran…

To Dani 9:54:28 PM : “Bu blon sms Nung? Die nanyain kabar loe tuh.”

Notification : message sent…


Gak ada balasan …

buzz
Dani 10:33:48 PM: “Sori jeng,tlp gak diangkat,lg nidurin anak2 nih…”

Halah… pantes, pasti tuh HP ada di luar kamar. Sudahlah gak usah dibales. Trus sms Nung dibales besok pagi aja ah, seperti ini:

To Nung 27-12-2005 7:18:23 AM : “Baik, blon tambah 🙂 mang gak terima sms doi? Doi ingat yei ultah”

Weleh, jadi inget Trio Bebek kumpulan bebek-bebek “jagoan” yang jadi akrab waktu ikut ekskul pencak silat Setia Hati Rembulan di SMP XI Jakarta Selatan. Gue dan Dani sudah dekat duluan, karena kita tinggal di wilayah yang sama, cuma beda 1 RT. Nah begitu kita ikut pencak silat, Nung akhirnya jadi kompak dengan kita berdua… ikut event-event latihan bertiga… gossip bertiga, dan memproklamirkan diri menjadi Trio Bebek * anak SMP gitu lhooo*. Walau begitu, kita tetap punya komunitas masing-masing selain Trio Bebek.

Hmmm, jadi pengen ketemu… kapan kita kumpul-kumpul lagi ya??


10th anniversary of 24th

Dikirim: November 24th, 2005 | Oleh: | Kategori: Kenangan | 8 Komentar »

10 tahun! …… Tak terasa sudah 10 tahun saya melewati tanggal 24 November….. wah sudah 10 berkeluarga? Tidak juga…. 10 tahun itu terdiri dari 4 tahun 7 bulan 14 hari pacaran dan 5 tahun 4 bulan 15 hari jadi istri sang mantan pacar 🙂

Sangat banyak yang terjadi dan berubah dalam kurun waktu selama itu…… kesenangan dan kerikil-kerikil kecil yang menghiasi hidup kami berdua. Dan Alhamdulillah kerikil-kerikil kecil tersebut dapat kami jadikan pasir lembut yang halus disepanjang jalan kehidupan yang kami pijak. Mudah-mudahan begitu selamanya, Amin.

Banyak hal yang berubah disekeliling kami, harga tiket bioskop, harga McDonald, ongkos angkot, ongkos Patas AC, tempat ngumpul dengan teman, komunitas, kegiatan, banyak hal… Era telpon umum, era pager, sampai era handphone dan internet 🙂

Kami juga berubah, timbanganku yang tidak pernah lebih dari angka 36-37-38kg perlahan melampaui angka 45-50 kg he…he…he jadi ndut (sedikiiit). Sedang dia juga tak mau kalah menaikkan bobot pada range 5-10kg dari timbangan awalnya…

Ada juga yang sudah hilang dari peredaran… rumah makan Bu Inah, depan kampus, tempat kita jadian sekarang sudah berubah menjadi tempat fotocopy King, yang sebelumnya berada disebelahnya. Wah kita gak bisa nostalgia di meja 12 kita nih …
“Taman tengah”, “kelurahan”, “kelas unit 2”, Kantin Bude, tempat nasi uduk, tempat nasi goreng “Duk-duk” Arema, juga sudah lenyap dari tempatnya semula…

Kok tanggal 24 yang dirayakan? Bukannya hari pernikahan…. Jangan salah kita merayakan semuanya…, bahkan kalau perlu setiap hari yang ada kami rayakan… Just make our life full of extraordinary things… make us bearing everythings we have, we do, we get, we give to each other.

Selamat “tanggal 24” Yang, masih ingat hujan-hujan ada yang menunggu jawaban dari lagu ciptaannya. Masih ingat semua cerita menjelang tanggal 24, masih ingat pasukan teman-temanmu yang sok tahu kirim-kirim salam padahal kamu gak tau dan gak nyuruh. Masih ingat kamu cerita bahwa sebelumnya kamu pernah meramalkan sesuatu buatku dan itu jadi kenyataan…

Masih ingat pertama kali nonton dan kamu gak suka kalau aku pakai “baju SMA” itu lagi. Masih ingat ada yang hampir percaya sama “rumah bengkel”, masih ingat ada yang tiba-tiba nganterin foto ukuran 10R… trus ternyata ada kembarannya. Masih ingat ada yang disuguhin indomie hangat sama bakal calon mertuanya waktu nganterin pulang. Masih ingat sekian banyak orang bilang kita mirip kayak adek kakak, …sampai sekarang aku masih heran dimana miripnya? Cakepan aku lagi dari pada kamu 😀

Masih ingat sama adek-adek yang dulu masih sepitil minil dan cengeng sekarang sudah pada besar dan menjulang tinggi. Masih ingat ada yang ikutan bebenah waktu ulang tahun adek. Masih ingat ada yang kepanasan jalan jauh banget ke Ulujami gara-gara salah turun bis cuma karena kangen sama pacarnya plus mau ngasih ikat rambut bagus yang dibeli di Bekasi. Masih ingat ada yang sakit di kost-an trus dijenguk dan malamnya dipaksa kedokter di sebelah rumah , masih ingat ada yang subuh-subuh muncul di rumah waktu aku keracunan rajungan, … ingat…ingat…ingat…

Sekali lagi selamat tanggal 24, sangat banyak yang dapat diingat dari 10 tahun ini, terlampau banyak untuk dituliskan tapi rasanya masih terlalu sedikit untuk selalu kita kenang. Mudah-mudahan kita dapat melewati tanggal 24 puluhan tahun yang akan datang dengan sesuatu yang lebih indah dari sebelumnya.

Amo te


Riyono Pratikto

Dikirim: November 22nd, 2005 | Oleh: | Kategori: Kenangan | 7 Komentar »

Bapak…… begitu saya menyebutnya… dari pertama kali bertemu, menjadi menantunya sampai akhirnya beliau berpulang 30 Oktober 2005 yang lalu.

Sosok ramah yang tenang dengan postur tubuh berisi dan senyum simpulnya yang simpatik. Jauh dari kesan menakutkan bagi seorang bakal calon menantu saat pertama kali bertemu. Justru suasana “welcome” yang porsinya untuk menantu yang beliau dan istrinya berikan. Wah selangit rasanya……

Interaksi selanjutnya biasanya via telfon atau saat kunjungan ke Bandung… Selalu ada yang dibincangkan, segala hal, bahkan lelucon…… Dengan pembawaan yang tenang dan teratur berkolaborasi dengan istrinya yang gesit dan random saat kita berkumpul membahas segala sesuatu. Walau kadang terlihat “berebut” untuk unjuk bicara dengan menantu si bungsunya ini 😀

Selalu senang hati saat menceritakan atau memperlihatkan koleksi-koleksi masa mudanya… buku, tulisan, uang kuno, foto, cerita, bahkan lelucon. Bahkan saat sakit selama 3,5 tahun akibat stroke, Bapak masih suka melucu walau susah payah kami memahami ucapannya yang pelo.

Lelucon terakhir yang membuatnya geli sendiri, saat kita membahas serangga kecil yang gemar berada didekat nasi atau tapai singkong sembari Bapak menghabiskan makan malamnya. Leburan etnik Jawa, Sunda dengan menantunya dari Padang ini saat menyebutkan nama serangga tersebut membuatnya tertawa terpingkal-pingkal… Mrutu, si serangga disebut Age dalam bahasa Padang. Sekonyong-konyong Bapak mengingat bahwa ada kerabat yang dipanggil Aghe, “…berarti sama dengan Mrutu” gumamnya terbahak…… Bahkan esok paginya dan kemudian setiap saat Bapak teringat, pasti gelaknya akan terbit terbahak.

Satu lagi yang rasanya tidak akan terlupakan dari Bapak. Kebiasaannya melepas anak menantunya pulang setelah berkumpul di Bandung. Lengkap dengan topi kupluk merah biru andalannya untuk menahan dingin akibat rambut putihnya yang sudah sangat menipis. Dengan setia Bapak pasti akan menunggu di jalan depan rumahnya, di ketinggian Jl. Sosiologi yang buntu, sampai kami tiba di perempatan jalan yang menurun dan hilang dari pandangannya.

Dan setiap kali kami menoleh untuk memastikan tebakan kami bahwa Bapak sudah masuk ke dalam rumah, pasti beliau langsung melambaikan tangan sambil tersenyum. Kadang, tebakan kami benar, tapi mungkin Bapak lebih cepat masuk rumah karena panggilan Ibu, karena ada telfon atau mungkin alasan lainnya yang menyebabkan “upacara” tersebut harus selesai.

Bapak … sampai saat terakhir sebelum kafannya ditutup, masih menampilkan wajah yang tenang dan ramah. Walau bobot tubuhnya menjadi ringkih sehingga garis wajahnya menjadi tirus, namun guratan senyum khasnya masih membayang dalam tidurnya yang damai. Ya, Bapak meninggalkan kami tanpa menunjukkan kesan sakit yang menderanya, tapi seolah tertidur lelap dalam buaian mimpi yang indah.

Selamat jalan Pak……