Amarah atau Teguran?
Dikirim: May 28th, 2006 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: Renungan | 2 Komentar »Tersadar…,
Itu mungkin yang diharapkan
Dari dua hal yang berbeda
Amarah…, atau
Teguran…
Tersadar…,
Itu mungkin yang diharapkan
Dari dua hal yang berbeda
Amarah…, atau
Teguran…
Akhirnya sempat juga bikin HMOn soal ini. Ya, seperti judulnya memang itulah kenyataan yang saya lihat di Indonesia ini, tepatnya dilingkungan sekitar saya. Sejak saya kenal sama yang namanya komputer dan aplikasi word processor dari Microsoft ini kok saya mendapati mereka menggunakan Microsoft Word sebagaimana layaknya mesin tik manual yang kebetulan bisa diberi gambar, tabel dan warna… just it!
Padahal sangat banyak fitur yang disediakan untuk mempermudah kerja dalam pembuatan dokumen.
Dimana salahnya ya?
Rasanya dulu saya juga tidak mendapatkan pengetahuan ini di bangku kuliah, mungkin karena jaman saya kuliah kurikulum praktikumnya belum sampai kesana? one excuse… Atau dulu belum semua orang mempunyai komputer dan lebih populer aplikasi WS dalam berbagai versi? (WS4, WS5, WS7…) another excuse.
Bagaimana dengan sekarang…? seingat saya sekarang ini di SMP dan SMA ada jatah belajar di lab komputer bagi semua siswanya…, diajarkankah? Karena begitu saya bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa saya mereka juga mengaku tidak pernah mengetahuinya. Dimana missing link-nya? Tidak adakah kesepakatan dalam penetapan kurikulum sekolah menengah dengan kurikulum perguruan tinggi? Atau hanya berdasarkan asumsi “ah, ini pasti AKAN diajarkan di perguruan tinggi karena tingkatnya sudah advanced” dan sebaliknya “ah, ini pasti SUDAH diajarkan di sekolah karena ini basic penggunaan“…? another more excuse, Duh, pantas gak pernah ketemu
Lalu bagaimana?… bukankah di aplikasi tersebut sudah tersedia fasilitas help yang menerangkan seluruh fitur dan menjelaskan penggunaannya? Pengguna tinggal meluangkan waktu sejenak untuk menyimaknya dan langsung mempraktekkannya… tidak punya waktu? cukup melihat help pada bagian yang sedang dibutuhkan saja! Sulit/malas karena help-nya dalam bahasa Inggris? That’s not an excuse anymore!! Sedemikian banyak alasankah masyarakat Indonesia?
Duh heran saya, padahal fasilitas tersebut sangat meringankan kerja saat membuat tugas… Pembuatan daftar isi secara otomatis (table of content) dan reference lainnya, pemberian auto caption untuk setiap gambar dan tabel, penggunaan paragraph – formatting style, penyisipan section break untuk format halaman yang berbeda…, auto numbering…, show formatting mark yang kata suami saya karakter aneh, dan sebagainya.
Duh, rasanya saya ingin posting tentang fasilitas-fasilitas itu… Heran saya…, gimana yah?
Waktu…
Hitungannya lewati sekian masa
Kuhitung…
Rutinitas itu tersendat
Hari ini ku mulai lagi
Lantunan kalam kaligrafi
Bismillah…
Yang bingung baca posting ini bukan judulnya yang salah ya…, judulnya bener kok… ini buat AWAN
Tanggal 16 Maret yang lalu saya sempat kaget saat melihat posting perpisahan Nina AWAN dari aggregatornya bedeng. Sebelumnya saya juga terheran-heran karena semua posting AdAm hilang semua komen-nya juga gak bisa kasih komen lagi, shoutbox-nya juga hilang, demikian pula di blog AdAm yang lainnya
Ya, blog dengan alamat http://adindamelia.blogspot.com/ milik Nina di Boxtel ini turut meramaikan saat2 blogwalking saya. Bertukar salam, komen bahkan masakan Nina dengan dua putri bernama AdAm sempat membuat saya jadi semangat masak dan posting resep baru padahal gak ada ide.
Tanggal 17 Maret 2006 kemarin saya sempat panik karena blog tersebut tidak dapat diakses…, wah saya belum punya gambar dari AWAN
, untung besoknya blog tersebut bisa saya kunjungi lagi. Jeng Nina, saya ambil fotonya AWAN ya! Oh ya AWAN itu adalah Adinda-Wim-Amelia-Nina, akronim dari nama Nina dan Wim suaminya, dengan kedua putrinya yang manis dan lucu.
Well, saya tidak tahu apa yang menyebabkan Nina berhenti dari dunia blogging. Saya pikir mungkin mereka akan pidah domisili, tapi rasanya itu bukan alasan karena blogging tidak mengenal batasan geografi bukan? Saya sempat tanya sama Mbak Tiwi yang tetanggaan dengan AWAN di Boxtel yang akhirnya memberikan press rilis diblog-nya tanggal 18 Maret 2006.
Hmm, gara-gara nila setitik yang saya juga tidak tahu apa tepatnya Nina terpaksa mundur dari dunia blogging. Sedemikian dahsyatnya kah setitik nila? Sampai Nina menghentikan aktivitas blogging, padahal blog tersebut didedikasikannya untuk sharing cerita keluarga kecil mereka di Boxtel bagi keluarga besar Nina yang ada di Indonesia.
Uhm, dear Dintje & Melie, mudah-mudahan Mama cepat hilang trauma-nya dengan setitik nila itu, so kita bisa ketemu lagi di blog Mama. Mudah2an Mama masih mau cerita tentang kalian diblog yang satunya.
Miss you all, see you soon AWAN
Bocah lelaki mulai melangkah
Tangannya membawa maket buatannya
Ya, maket cerita kehidupan impiannya
Hati-hati dibawa menuju tempat yang teduh
Agar ia dapat mulai memainkannya
Lihat Ibu, maket buatanku
Serunya tegas semantap langkahnya
Sang Ibu tersenyum
Hebatnya jagoan tercintaku…
Bersyukur…, memuja…
Tetapi
Sebongkah kerikil mengganggunya
Langkahnya terantuk dan seketika goyah
Ibu…!, kiamat menderaku…!
Sang bocah berseru, pucat
Matanya serta merta serasa kelam
Hatinya tercekat,
Maket impiannya terserak
Sabar Sayang…
Ibu merayu, menghampiri
Menemani bocah meraih maketnya
Pelan-pelan dirakitnya kembali
Sabar Sayang…, hatinya pilu tanpa daya tuk membantu
Lihatlah maket ini dapat diperbaiki
Sedihnya mulai pupus
Walau sakitnya masih pilu
Kerikil ini akan menguatkanmu
S’hingga batu gunung akan malu mengganggumu
Tak akan halangi langkahmu nanti
Sabar Sayang….,
Itu hanya kerikil bagimu…
-pendamping hati-|-20060314-
Hari ini saya dibuat tak habis pikir tentang perempuan,… bukan… bukan karena mengenai RUU APP yang sedang marak dengan kaum perempuan sebagai salah satu topiknya. Saya tak habis pikir dengan kondisi bahwa banyak hal yang menurunkan martabat perempuan dan ini dilakukan oleh kaum perempuan itu sendiri.
Sebagai seorang perempuan, saya sebisa mungkin untuk selalu menjaga martabat kaum ini. Berusaha untuk dapat setegar, semandiri dan segigih mungkin dalam porsi yang dapat dilakukan oleh perempuan. Saya tidak berusaha melawan kodrat, bahwa kaum perempuan memang masih memerlukan perlindungan dan uluran tangan dari kaum laki-laki, katakanlah dari para Ayah dan Suami maupun saudara laki-laki. Selagi mampu untuk melakukan ataupun membuktikan sesuatu sendiri, mengapa harus mengiba-iba sebagai kaum lemah yang tak punya daya?
Menurut saya martabat suatu kaum ditentukan oleh kaum itu sendiri, barulah anggapan, pandangan dan penerimaan kaum lainnya turut menguatkannya. Menurut saya bagaimana masyarakat bisa menghargai perempuan kalau perempuannya sendiri merendahkan martabat mereka dengan cara seperti ini….., seperti yang saya alami tadi siang:
). Oh,… dan saya tidak tahu harus berkata apa lagi…
Tadi sore saya dan suami mencoba ikutan antri untuk mencicipi Blenger Burger yang menurut referensi rasanya lezat hingga siapapun ketagihan… Memang, begitu kami sampai di perempatan Bintaro dari arah kolam renang, antrian sudah mengusik pandangan. Diantara mereka yang antri, ada seorang bapak tua ikut melongok antusias ke arah kedai burger yang ada dipojok area jajanan tersebut, seorang bapak penjual pisang.
Saya gak perlu menceritakan kronologis yang terjadi… yayang sudah posting tentang itu lebih dulu di catatan-nya. Saya cuma mau cerita bahwa ternyata masih tersisa kemuliaan di Jakarta yang semakin tak acuh ini. Sosok seseorang yang mungkin kerap tak teracuhkan oleh kita, ternyata masih memiliki kemuliaan harga diri. Tidak mau hanya sekedar menerima, beliau ikhlas memberikan barang dagangannya yang terbaik kepada kami.
Mengapa saya yakin beliau memberikan yang terbaik…, karena saya tak sengaja melihatnya mempertimbangkan sesuatu …, sebelum beberapa menit kemudian menyodorkan dengan tulus sebuah bungkusan kepada suami saya. Kami tidak tahu, apakah hari ini langkahnya berjualan baru dimulai atau hampir selesai, kami tidak tahu… sudah berapa banyak dagangannya yang laku atau belum sama sekali. Tapi kami yakin, bahwa beliau mengikhlaskan apa yang semestinya menopang hidup keluarganya, untuk sesuatu yang bagi kebanyakan orang mungkin hanya menjadi kudapan selingan sebelum makan. Dan kami tak akan tega menerimanya.
… …
Dan bapak itu berlalu entah kemana, membiarkan burger tersebut tergeletak aman dalam pikulannya. Kami rasa pasti beliau tergesa-gesa membawanya pulang untuk keluarganya, mungkin istrinya, mungkin anaknya atau mungkin cucunya. Kemuliaan seorang bapak tua penjual pisang yang ingat untuk berbagi dengan keluarganya, tak mau egois menikmati apa yang diimpikannya sore ini.
Terima kasih Bapak tua, telah mengingatkan kami indahnya sesuatu yang dengan tulus dinikmati bersama orang-orang tercinta. Terima kasih telah membukakan mata kami betapa kemuliaan Allah terpancar dari dalam hatimu.
Malam ini akhirnya saya benar-benar selesai membaca buah pena karya Mentalist Indonesia Deddy Corbuzier. Buku yang kita beli tanggal 8 November 2005 ini, walaupun berjudul Mantra, tapi jauh dari hal-hal magic yang umumnya dikaitkan dengan pesulap.
Sebenarnya saya sudah selesai membaca bagian inti dari buku ini pada awal Desember 2005 lalu. Di kereta, diperjalanan Jakarta-Bandung untuk berkumpul di 40-hari wafatnya almarhum Bapak. Sedangkan bagian penutup masih tersisa beberapa puluh lembar untuk dibaca.
… …
Buku ini menurut Deddy merupakan kumpulan dari konsep psikologi dalam berkomunikasi. Ya! saya mendapatkan banyak wawasan baru dalam berkomunikasi. Dalam bahasa yang mudah dicerna, contoh-contoh yang tepat dan gaya penuturan yang menyenangkan. Liguistic Deception Art dan Body Perception adalah Mantra menurut Deddy.
Deddy juga menghadiahkan pembacanya dengan cerpen pembuka yang menyenangkan, berlatar belakang zaman kerajaan. Dan sebagai bagian akhir dari Mantra ini adalah DIVKA … sebuah cuplikan pembicaraan Deddy dengan sesosok yang selalu penuh dengan jawaban.
Di bagian DIVKA ini dibagi menjadi beberapa segment yang diawali kata-kata bijak yang menurut saya sangat mendalam artinya:
Hmm, tertarik…? tenang saya gak akan menulis lebih banyak, dari pada nanti dimarahin Deddy gara-gara rangkuman saya mengurangi penjualan Mantra :D
Penasaran? … ho…ho…ho, saya aja akan membaca lagi buku ini saat diperlukan. Jadi selamat membeli dan membacanya
“Selamat Hari Ibu…”, “Aku sayang Ibu…” itu beberapa kata yang muncul di status Y!M teman-temanku. Hari ini memang rasanya special buat semua orang untuk ibunda, mungkin kecuali saya, * sigh* karena bagi saya setiap hari adalah hari untuk berterima kasih pada ibu…
* hug*
Bahkan saya sempat mengira salah satu teman saya yang baru saja menikah itu sedang melankolis, kangen sama sang ibu karena sebentar lagi dia akan tinggal di rumahnya sendiri * dooh gak nyambung banget yak* Telpon dari adek bungsu saya kemarin, yang mengingatkan tentang hari ibu pun ternyata tidak membuat saya sadar bahwa hari ini adalah Hari Ibu *Yessi, sorry......! *
Saya baru menyadarinya setelah mendapati setangkai mawar merah di meja saya sehabis makan siang! * blush* Mawar merah dengan kartu ucapan selamat hari ibu yang berisi puisi:
Pagi ini aku tepekur
Menepikan segumpal asa yang kian merajaiku
Sebuah nama mengisi sudut jiwaku
Bunda…
Kucoba tuk merangkai kata demi kata
Bait demi bait
Namun tak kutemui apa yang kucari
Karena tak ada yang melebihimu
Kelembutan pun keperkasaanmu
Bunda…
Tuhan menjadikanmu sebagai mediatorku
Mengajariku akan makna hidup
Memapahku saat kuterapuh
Menjadi perisai dalam jeratan tirani dunia
Yang menggerogoti kepolosanku
Bunda…
Jubah kasihmu yang telah kau sulam ini
Biarlah terus menghangatkanku
Dalam pekatnya jiwaku
Bunda…
Tak ada kata yang bisa mengungkapkan
Kesempurnaan dalam ketidaksempurnaanmu
Pun perjuangan dan pengorbananmu
Dalam melahirkanku dan membesarkanku
Dalam diamku aku berteriak
Terima kasih, Bunda…Senat Mahasiswa FTI
Wah… saya tersanjung… terima kasih! , sayangnya saya tidak bertemu langsung para mahasiswa tersebut
Terima kasih anak-anak… terima kasih mawar merahnya, terima kasih puisi indahnya, … tapiiii nama saya kok masih salah juga “Zuliazmi” yang Zed didepannya langsung ditimpa huruf “Y” … he…he… pasti belum baca posting Yuliazmi :D
Selamat Hari Ibu, Mama…
Selamat Hari Ibu, Ibu Bandung…
Selamat Hari Ibu, semua ibu yang ada di bumi ini…
I love you… Mom!
PS:
Apapun butuh 3 hal untuk terjadi…. Syarat, Hak dan Waktu, jika ketiganya terpenuhi baru afdhol…. itu kata Pak Harry, Dirut dimana suami-ku bekerja…. saat mengetahui kita berdua belum punya momongan….
Jadi menurut Pak Harry, sesuatu itu baru afdol atau sudah sampai hari ‘H’-nya kalau ketiga hal tadi terpenuhi, kalau belum yah pasti tidak akan maksimal hasilnya.
Syarat untuk mendapatkan sesuatu harus sudah terpenuhi dulu. Baru dilihat apakah memang sudah menjadi Hak kita untuk mendapatkan sesuatu itu. Nah terakhir dilihat juga apakah sudah Waktu-nya kita mendapatkan hal tersebut.
Misalnya seseorang yang melamar pekerjaan. Harus memenuhi syarat yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan, lalu memang sudah haknya karena memang masih dalam usia produktif. Dan memang waktunya tepat, saat dia melamar pekerjaan, perusahaan yang bersangkutan memang membutuhkan tenaga dengan kualifikasi yang dipenuhi oleh orang tersebut.
Wah, dapet ilmu baru lagi nih, makasih Pak Harry
Recent Comments